Selasa, 06 Februari 2018

Hansel & Gretel [Chapter 1]

Okayy, sebelum siapapun membaca kisah ini, pastinya udah kebayang ya ceritanya gimana? Gimana gak, soalnya judulnya aja ‘Hansel & Gretel’ kisah grimm dua kakak-adek yang dibuang ke hutan dan menemukan rumah permen yang ternyata pemilik dari seorang penyihir.

Nah, jadi, cerita yang akan kubawa kan kali ini akan menjad kisah Hansel & Gretel versiku  sendiri^^ yap, maksud dari versiku sendiri adalah dimana kisahnya ada yang kutambah-tambah, pokoknya beda dengan yang aslinya, tapi inti sari dari cerita ini masih sama kok.

Aku menanggapi semua kritik dan saran dari para readers yang bersifat membangun. Jangan malah nge-judge, bully, dll, dan yang pasti aku gak pernah tertarik dengan yang namanya plagiat cerita orang lain. Ini murni dari pemikiranku sendiri, beda kasus kalau ada kesamaan yang kebetulan.
Mungkin itu saja untuk awalan dari cerita ini, dari pada capek nunggu mending langsung ke ceritanya (rencananya mau post di wattpad, tapi mager).

Happy reading!

November, 5 2017 | 19.30 pm

***


Fanart credit to owner :)



“Hansel!”

Panggil Gretel saat Gretel yang kesulitan membawa beberapa kardus menuju kamarnya. “Hansel!!” panggil Gretel lagi semakin keras saat tumpukan kardus yang dibawanya nyaris jatuh dan...

GRAB!

“Sudah kubilang kalo gak bisa, jangan bawa banyak-banyak! Bawel banget sih.” Gerutu Hansel saat membawa kardus dari tangan Gretel.

“Kelamaan kalo bawa satu-satu, kamu jangan main game dulu kenapa sih? Bantuin beresin kardusnya sono!” bentak Gretel.

“Barang-barang aku udah di kamar semua, kelar kan urusan aku?” ucap Hansel.

Hansel meletakkan kardus-kardus berisikan barang-barang adiknya di kamar adiknya itu. Lalu ia kembali menghempaskan diri di kasur adiknya sambil memainkan gagdetnya. 

“HANSEL!!” teriak Gretel lagi.

***

Gretel memasang dasi seragam sekolahnya di depan cermin. Rambutnya yang sudah disisir rapi dan diberi bando agar lebih rapi. Dia sudah sangat-sangat siap untuk berangkat sekolah dihari pertamanya. Setelah memastikan semuanya sudah rapi, Gretel pun bersiap untuk sarapan.

“Pagi, sayang.” Sapa ibunya yang sudah duduk di meja makan. Beberapa pelayan sedang mempersiapkan meja makan untuk sarapan pagi itu.

“Pagi, ma.” Ucap Gretel duduk di kursinya. 

“Dimana Hansel? Kalian sudah mau berangkat?” tanya Ibunya.

“Hm? Hansel masih di kamarnya, paling bentar lagi turun.” Ibunya hanya mengangguk-angguk. Gretel menyantap sarapannya.

Gretel selesai sarapan dan Hansel belum turun. Gretel mulai berteriak memanggilnya, namun tak ada jawaban. Gretel mulai beranjak dari duduknya sambil menggerutu.

“Lagi ngapain sih dia, sampai lama banget? Sebenarnya dia itu cowo ato cewe sih?” gerutu Gretel lalu kembali menaiki tangga dan menggedor pintu kamar Hansel.

“Hansel! Masih lama?? Udah mau telat ni! Buruan!”

TOK!TOK!TOK!TOK!

TOK!TOK!TOK!TOK!

Namun karena tak ada jawaban, Gretel terpaksa membuka paksa pintu kamar Hansel dan apa yang dia lihat sungguh sulit di percaya.

Hansel masih tertidur di kasurnya sambil menggenggam gagdetnya dengan selimut yang tersibak acak-acakan.

“Bagaimana Gret? Dia gak lupa hari ini dia sekolah kan?” tanya Ibunya dari bawah.

Gretel berjalan memasuki kamar Hansel dan berdiri di samping kasur Hansel dengan urat  yang kini sudah terukir di keningnya. 

“Aku akan buat dia ingat, ma.” Ucap Gretel lalu bersiap menaikkan lengan bajunya sampai ke siku.

GEBRAK!!

*bagian ini disensor karena ada unsur kekerasan, kesadisan yang menyebabkan ketidaknyamanan pembaca.*

Hansel duduk di meja makan dengan keadaan seragam acak-acakan alias asal pakai dan pastinya wajahnya sangat memprihatinkan.

“Hans, cepetan sarapannya, ntar lagi telat.” Ucap Gretel sambil memasang sepatu.

“Gimana mau makan, mulut lebam kek gini??”


***


Bersama dengan Gretel, Hansel mamasuki kelasnya. Tepat dibelakang Gretel, Hansel masih fokus dengan gagdetnya.

“Hans, simpan hapenya dulu napa?” ancam Gretel.

“Ga bisa.” Ucap Hansel tetap fokus dengan layar hapenya.

“Serah deh.” Gretel tak peduli.

Gretel duduk di meja kosong di kelas, Hansel pun duduk di sampingnya, dari sudut matanya, ia terus mengawasi Gretel, takut jika ia ditinggal sendiri di kelas yang ia tak kenal siapa-siapa di sini.

“Gret,” panggil Hansel.

Gretel menoleh sinis.

“Jangan kemana-mana ya, disini aja.” Kata Hansel masih fokus pada hapenya.

“Emang kenapa?” 

“Disini aja, bawel.”

“Bilang aja kamu ga ada teman yang bisa diajak bicara kalo ada apa-apa kan?”

"Yoi.”

“MAKANYA JANGAN MAIN HAPE MULU!” Gretel merampas hape Hansel.

“GRETEL!!”

“APA?”

“BALIKIN!”

“GA!”

*Kakak vs adek pun dimulai.*


“H-hai,” sapa seorang gadis.

Gretel mendongak, cewe berambut pirang tersenyum ramah dan duduk di sampingnya. “Hai.” Balas Gretel.

“Kamu Gretel kan? Perkenalkan namaku Elena.” Gadis itu menyodorkan tangannya.

“Iya. Salam kenal, Elena.” Ucap Gretel.

“Itu saudara kembarmu ya?” tanya Elena menunjuk kearah Hansel.

“Bukan.”



***



“Gretel, masih lama?” ucap Hansel yang menidurkan kepalanya di meja sambil memandangi Gretel di sebelah mejanya sedang merapikan buku-bukunya.

“Duluan aja kalo ga sabaran.”

“Ntar kalo aku aku nyasar kamu juga kan yang repot disuruh nyariin aku.” 

“Bodo.”

#cewepmsmodeon.



“Gretel, kita pulang pake taksi aja yuk.” Rengek Hansel yang dari tadi bosan menunggu bus di halte, apalagi hapenya disita oleh Gretel.

“Bawel amat sih, pesen taksi sono kalo gitu.”

“Ya, maksudnya kamu juga ikut, Gretel.” Hansel mengacak rambutnya.

“Uang aku gak cukup pesen taksi.” 

“Pake uang aku lah.”

“Yaudah, dari tadi kek.”

Plak.


Sesampai di rumah...

“Gimana tadi sekolahnya, Hansel? Gretel?” tanya ibu mereka saat makan malam.

“Biasa aja.” Ucap Gretel.

“Penuh kesabaran.” Ucap Hansel.





[TBC]


Yeah, aku sengaja buat ceritanya gaje gini dan lebih ke short story gitu. Sabar aja, ini cerita bahkan belum dimulai :)


  

[Short Story] Chocolate

This is story has been publish on wattpad. I write this for an event! I feel have no idea and hwala~ This is publish! I know this is disgusting...
Just Enjoy~





 


Panas. 

Itu hal utama yang kurasakan setelah berdiri di gerbang belakang sekolah selama 30 menit lebih. Menunggu sahabatku yang kurasa ia tak akan datang, namun aku enggan untuk berbalik pulang.
Matahari semakin tenggelam, hari semakin gelap, kuputuskan untuk pulang sesaat sebelum seseorang memanggil namaku dari arah belakang...

“Sienna?” panggil seseorang.

“Ya?” ucapku melihat seorang laki-laki berdiri di hadapanku. 

“Ada apa?” tanyanya sambil memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celananya. Ucapannya cukup membuatku bertanya-tanya, ada apa? Ada apa, apanya??

Melihat ekspresi kebingunganku, membuat lelaki itu memutar bola matanya dan mengeluarkan sepucuk surat dan... bingkisan coklat, milikku?

“T-tunggu dulu, bagaimana bisa ada padamu—?” ucapanku terhenti mengingat bagaimana bisa coklat itu sampai pada lelaki yang tak kukenal.

Flashback

Aku berdiri di depan deretan lemari loker sekolah. Aroma besi bercampur debu menusuk hidungku begitu mencium bau ruangan khusus loker itu. Frustasi mencorat-coret otakku saat aku lupa dimana loker milik sahabatku, Trevor.

Meskipun aku sering menemaninya ke loker setiap pulang sekolah, aku tak pernah tahu pasti yang mana loker miliknya. Lusa yang lalu adalah hari ulang tahunnya, dan aku baru sempat membelikan coklat kesukaannya hari ini. Rencanaku kali ini adalah meletakkan hadiahku di lokernya, namun rencana itu ternyata tidak semudah yang kukira.

Dengan ingatanku yang tersisa, aku mengira-ngira loker milik Trevor, aku yakin ingatanku tidak seburuk itu. Setelah menemukan loker yang pasti, lalu kumasukkan coklat batangan itu melalui celah loker dan sepucuk surat.

Flashback off.

“Ja-jadi itu lokermu?” ucap Sienna terkejut.

“Sudah kuduga, ini salah paham.” Ucap lelaki itu dingin, “Tapi tentu ini bukan keberuntungan untukmu, Sienna.” Ucap lelaki itu sambil memasukkan kembali coklat dan suratnya ke dalam saku celananya.

“Tentu saja ini bukan keberuntunganku, sekarang kembalikan coklatnya, kau tahu ini kesalahpahaman,” kusodorkan tanganku padanya tanda meminta kembali coklat dan surat milikku.

“Tidak semudah itu,” ucapnya memejamkan mata sambil menggeleng. “Kau memberikan coklat dan surat ini seolah aku ini pacarmu, dan kau tahu apa yang terjadi saat kau meletakkan coklat di lokerku apa kata teman-temanku?” lelaki itu memiringkan kepalanya.

Seketika aku merinding saat wajahku sejajar dengannya, aku menggeleng tak tahu.

“Kau tidak perlu tahu, intinya ini tak bisa ku kembalikan, dan kau sekarang resmi jadi pacarku, kuanggap coklat dan surat ini adalah ajakanmu menjadi pacarku. Kalau begitu, bubye...”

Cukup lama aku berdiri di posisiku sambil mencerna baik-baik apa yang diucapkan laki-laki yang BAHKAN aku tak tahu namanya?! Maksudku, dia bicara apa tadi?!?![]

Pagi itu kulihat Trevor, cowok berkacamata bertubuh gendut duduk di samping mejaku. Ia sedang fokus dengan rubiknya, kutarik nafas panjang dan menanyakannya langsung.

“Trevor!” panggilku.

“Pagi, Na,” ucap Trevor sedikit cemberut.

“Kau sudah terima hadiahku, bukan?” ucapku penuh harap bahwa hadiahku tidak salah terima orang.

“Ya, aku sudah mengecek lokerku dan isinya KOSONG, terima kasih banyak atas leluconnya, Na.”

“K-kau serius? Jadi itu benar, aku salah memasukkan co—“ cepat-cepat kututup mulutku sebelum Trevor mengetahui hadiahku.

“Apa? Kau salah memasukkan hadiahku?? DASAR SIENNA BODOH! BODOH! BODOH!” ucap Trevor.

“Jangan bilang aku bodoh, bodoh! Ya ampun, kenapa masalah kecil ini aku besar-besar kan sih? Tenang Sienna, aku hanya perlu menenangkan diriku dan kembali normal kembali.” 

Kuletakkan tasku ke samping kursi Trevor, merebahkan pantatku yang lemas karena pagi-pagi sudah naik darah.

Aku dan Trevor sudah lama bersahabat, meskipun kami sering bertengkar, kami selalu bersama. Siang itu aku dan Trevor tengah memperdebatkan antara roti selai kacang dan roti isi keju. Namun disaat-saat seperti itu sebuah suara menaikkan bulu romaku...

“Sayang,”

Aku menoleh, melihat sosok lelaki berambut hitam lebat tersenyum mempesona tepat di hadapanku. Di belakangnya beberapa cewek seakan baru saja di sambar petir.

“Kau sudah makan, makan siangmu? Mau makan bareng?”

Jika saja aku berada di dunia fiksi, mungkin aku sudah mimisan yang darahnya akan menggantikan selai kacang menjadi selai stroberi di tanganku.

“TU-TUNGGU DULU, FESAL! SEJAK KAPAN KALIAN JADIAN?” teriak salah satu cewek.

“Sejak kemarin.”

“Apa?! Kau sudah jadian Na??!” ucap Trevor juga kaget.

“HE— Tunggu dulu! Jangan salah pa—“

“Ikut aku.” Lelaki bernama Fesal itu menarik lenganku menjauhi keributan. Entah mengapa bulu romaku merinding begitu ia mengatakan kata ‘sayang’ yang terdengar sangat menyeramkan.

“Apa-apaan tadi? Kau gila? Aku bukan sayang-sayang, jidatmu?!” bentakku setelah memasuki koridor sekolah yang lumayan sepi.

“Kau sendiri yang mengatakannya di dalam suratmu.” Fesal kembali mengeluarkan sepucuk surat yang kutulis kemarin untuk Trevor.

Happy Birthday~! Wish you all the best^^ This is chocolate I present only for you >.< Love chuu<3
Gerbang sekolah, sepulang sekolah.’

Fesal kembali menyimpan surat itu, kutepuk jidatku keras-keras, kenapa bisa aku menulis kalimat tadi? Aku dan Trevor sudah sangat dekat bagai kakak-adek atau kucing dan anjing, kami terlalu sering bersama sehingga ucapanku padanya terlalu terbuka dan aku tak pernah memikirkan jika suatu saat nanti akan ada hal seperti ini terjadi.

“Dengar ya, aku menulis itu bukan untukmu, dan kau tahu itu. Jadi kau boleh menyalahkanku asal jangan bilang aku ini pacarmu lagi, kau mengerti.” Ucapku berdamai.

“Haha... Tentu saja kau sudah jadi pacarku, pertama ada kalimat ‘Love chuu’ di suratmu dan tak ada nama ‘Trevor’ di situ, menandakan surat itu untuk pemilik coklat.”

“Ya kau benar dan pemilik coklat itu bukan kau, tapi Trevor!” ucapku sedikit membentak.

“Tahan dulu Nona, kedua, coklat dan surat berada di loker milikku. Jadi ini mutlak untukku.”

“Apa-apaan?! Egois sekali!” bentakku.

“Ketiga, kemarin itu memang hari ulang tahunku, jadi saat teman-teman cewekku mengerubungiku, mereka melihat surat dan coklat di lokerku, dan itu cukup membantuku membuat mereka kecewa dan pergi satu-persatu.”

“Intinya aku gak mau jadi pacar siapa-siapa!” ucapku tegas.

“Tidak mau. Aku sangat beruntung menerima coklat darimu,” Fesal cukup membuatku ingin mimisan, namun tatapannya yang dingin membuatku kesal.

“Tenang saja, aku sepenuhnya milikmu dan juga sebaliknya, jangan khawatir, dalam waktu dekat kau akan suka juga padaku, jadi jalani saja.”

“I-ini namanya pemaksaan!”

“Gak apa-apa, ini pelajaran bagimu. Hanya karena coklat, hidupmu bisa sedikit lebih baik lho.” Fesal terkekeh.

Aku terdiam, tanpa kusadari jantungku berdegup kencang. Aku tak mengerti situasi seperti ini, apakah aku harus senang atau malah sebaliknya?


Senin, 06 Juni 2016

10 Anime Funny Pic!

Levi | Attack on Titan 
sumber : knowyourmeme.com

Mangakus | Naruto - One Piece - Gintama
 sumber : Pinterest | Crystal Bloodgood

 
Jean | Attack on Titan

 sumber : 

Levi - Erwin - Hanji
 sumber : pinterest | 9GAG

 
Anna - Levi | Frozen - Attack on Titan

 sumber : pinterest | Death the Kid

 
NARUTO SHIPPUDEN

 seriously Masashi??! Sasukeeh!<33

sumber : pinterest | Roni

Momoi - Kise - Midorima | Kuroko no Basket
you seriously... Midorima  -_-

 sumber : MemeCenter

Lavi (again) | AoT
sadly, true story T^T

sumber : imgarcade.com

 
Momoi - Aomine | KnB

 Aomine... where that eyes look?

sumber : aokiseonlyandaokaga.tumblr.com

Hanji - Titan | AoT
Senpai!! NOTICE ME TOO T^T

sumber : tomesandcoffee.com
*
*
*
*
*
well, not all so funny but, I hope you smile even just lil bit<3 Love ya! >w<
 

Minggu, 05 Juni 2016

Stressed Out~

But now I'm insecure and I care what people think.

My name's 'Blurryface' and I care what you think.

Kaneki :: Tokyo Ghoul
Twenty One Pilots~

[Lirik Lagu] Faded by Alan Walker

My favorite song now! Listen this! Faded by Alen Walker<3

Ini lagu kesukaanku, kunjungin akun Ig aku @liraaulia_ , aku ada nge-re-post video sekitar 15 detik dengan lagu ini, keren banget<3 lagu ini nada-nada sendu tapi musik latar belakangnya seolah tersenyum di atas kesedihan... begitulah kurang lebih - lebih kurangnya >3<

Baca liriknya baik-baik sambil dengerin lagunya. I'm faded :)



You were the shadow to my light
Did you feel us
Another start
You fade away
Afraid our aim is out of sight
Wanna see us
Alive
 
Where are you now
Where are you now
Where are you now
Was it all in my fantasy
Where are you now
Were you only imaginary
Where are you now
 
Atlantis
Under the sea
Under the sea
Where are you now
Another dream
The monsters running wild inside of me
 
I'm faded
I'm faded
So lost
I'm faded
I'm faded
So lost
I'm faded
 
These shallow waters, never met
What i needed
I'm letting go
A deeper dive
Eternal silence of the sea
I'm breathing
Alive
 
Where are you now
Where are you now
 
Under the bright
But faded lights
You set my heart on fire
Where are you now
Where are you now
 
Where are you now
Atlantis
Under the sea
Under the sea
Where are you now
Another dream
The monsters running wild inside of me
I'm faded
I'm faded
So lost
I'm faded
I'm faded
So lost
I'm faded
 
 

[Lirik Lagu] My Demons by Starset dan Terjemahannya

Guys, this is my recommended song! at the first time I hear this song, at the awesome AMV on youtube, Attack On Titan AMV My Demons! Watch that! and there's still so many other AMV with this song! <33


awalnya aku mau posting lirik lagu dengan terjemahannya, tapi, karena gak ada artikel yang mencantumkan terjemahannya, jadi aku sendiri yang buat terjemahannya, jadi kalau ada beberapa kalimat yang salah, tolong di kasih tahu ya! Arigatou!

Mayday! Mayday!
(Mayday! Mayday!)
The ship is slowly sinking
(Kapalnya perlahan-lahan tenggelam)
They think I'm crazy but they don't know the feeling
(Mereka pikir aku gila, tapi mereka tidak punya perasaan)
They're all around me,
(Mereka semua di sekitarku,)
Circling like vultures
(Berputar-putar seperti elang)
They wanna break me and wash away my colors
(Mereka ingin mematahkanku dan membasuh habis warnaku)
Wash away my colors
(Membasuh habis warnaku)



Take me high and I'll sing
(Bawa aku tinggi dan aku akan berteriak)
Oh you make everything okay, okay, okay
(Oh, kau membuat semuanya ok, ok, ok)
'Kay, Okay, Okay
(Ok, ok, ok)
We are one in the same
(Kita adalah salah satu dari yang sama)
Oh you take all of the pain away, away, away
(Oh, kau membawa semua rasa sakit jauh, jauh)
'Way, away, away
(Jauh, jauh, jauh)
Save me if I become
(Selamatkan aku jika aku menjadi)
My demons
(Monsterku)
I cannot stop this sickness taking over
(Aku tidak bisa menghentikan penyakit ini mengambil alih)
It takes control and drags me into nowhere
(Seperti di kontrol dan di bawa kemana-mana)
I need your help, I can't fight this forever
(Aku butuh bantuanmu, I tidak bisa melawan ini selamanya)
I know you're watching,
(Aku tahu kau mengawasi)
I can feel you out there
(Aku bisa merasakan kau di luar sana)


Take me high and I'll sing
(Bawa aku tinggi dan aku akan berteriak)
Oh you make everything okay, okay, okay
(Oh, kau membuat semuanya ok, ok, ok)
'Kay, Okay, Okay
(Ok, ok, ok)
We are one in the same
(Kita adalah salah satu dari yang sama)
Oh you take all of the pain away, away, away
(Oh, kau membawa semua rasa sakit jauh, jauh)
'Way, away, away
(Jauh, jauh, jauh)
Save me if I become
(Selamatkan aku jika aku menjadi)
My demons
(Monsterku)
Take me over the walls below
(Bawa aku ke bawah dinding)
Fly forever
(Terbang selamanya)
Don't let me go
(Jangan biarkan aku pergi)
I need a savior to heal my pain
(Aku butuh penyelamat untuk menyembuhkan rasa sakitku)
When I become my worst enemy
(Katika aku menjadi musuh terburukku)
The enemy
(Musuh)

Take me high and I'll sing
(Bawa aku tinggi dan aku akan berteriak)
Oh you make everything okay
(Oh kau membuat semuanya ok)
We are one in the same
(Kita adalah salah satu yang sama)
Oh you take all of the pain away
(Oh, kau membawa semua rasa sakit pergi)

Take me high and I'll sing
(Bawa aku tinggi dan aku akan berteriak)
Oh you make everything okay, okay, okay
(Oh, kau membuat semuanya ok, ok, ok)
'Kay, Okay, Okay
(Ok, ok, ok)
We are one in the same
(Kita adalah salah satu dari yang sama)
Oh you take all of the pain away, away, away
(Oh, kau membawa semua rasa sakit jauh, jauh)
'Way, away, away
(Jauh, jauh, jauh)
Save me if I become
(Selamatkan aku jika aku menjadi)
My demons
(Monsterku)
Take me high and I'll sing
(Bawa aku tinggi dan aku akan berteriak)
Oh you make everything okay, okay, okay
(Oh, kau membuat semuanya ok, ok, ok)
'Kay, Okay, Okay
(Ok, ok, ok)
We are one in the same
(Kita adalah salah satu dari yang sama)
Oh you take all of the pain away, away, away
(Oh, kau membawa semua rasa sakit jauh, jauh)
'Way, away, away
(Jauh, jauh, jauh)
Save me if I become
(Selamatkan aku jika aku menjadi)
My demons
(Monsterku)

Levi :: Shingeki no Kyojin
 

The Baka's from MTsN Andalan Pekanbaru

Seperti yang sudah aku katakan pada postinganku sebelumnya (meskipun nggak ada yang tahu -,-), untuk postingan berikutnya aku akan membahas tentang teman-temanku atau aku yang menyebut mereka (termasuk aku) The Baka's yang artinya tak usah di pertanyakan :3

Kalau kata 'teman' dalam jangkauan Makro (kok jadi ngajaran pelajaran ekonomi ya?) Makro atau luas, kata 'teman' ada sangat banyak di sekolahku, tepatnya pada saat aku duduk di kelas tujuh sampai sembilan.

Tapi, kalau kata 'teman' dalam jangkauan Mikro (dah lah... udah terlanjur...) jangkauan yang kecil, aku memiliki beberapa 'teman dekat'. Di mulai saat aku kelas tujuh. Teman pertamaku di sekolah menengah pertamaku adalah Sirep ._.

Aneh memang, tapi tentu itu bukan nama aslinya, nama aslinya Savira, awal-awalnya kami panggil Vira, namun aku agak ragu mengapa ia bisa di panggil Sirep (atau mungkin penulisan katanya Si Rep, aku tak tahu...) ia gadis.... bukan, ia gadis yang berjiwa laki... (yah, kurang lebih - lebih kurang seperti itulah...) meskipun sekarang kami tidak sedekat yang dulu, tidak ada seorang pun yang menggantikan posisinya sebagai my first friend (saat masuk mtsn...)

Masih panjang kisahku di kelas tujuh, tepatnya kelas tujuh enam- 7.6 saat itu ketua kelasnya Alwi, wakilnya Zeta, sekretarisnya Arif dan wakil sekretarisnya aku, bendahara dan wakil bendaharanya Rhafa atau Firda (aku ragu siapa ketua bendaharanya dan siapa wakilnya...) tapi, sepertinya, jika aku menjelaskannya lebih rinci, laptopku atau laptopmu akan error jika aku mengetik sepanjang tali beruk lalu mempostingnya, (haha, lucu ._.)

Hmm... Cobaku ingat dulu di kelas delapan. Menurutku, di kelas delapanlah yang paling seru. Kelas 7.6 kini sudah menjadi 8.6 tak ada perubahan dari tampang-tampang di kelas ini (setidaknya, tidak ada teman sekelas kami yang operasi plastik jadi cogan khas korea, namun Arifi cukup jadi cogan Korea KW...).

Setelah liburan panjang, kami kembali masuk sekolah dan bertemu tampang-tampang teman sekelas yang sudah bersama selama satu tahun. Di kelas ini kami, (khususnya aku, dan mungkin juga beberapa orang lainnya) bertemu dua orang penting dan tak terlupakan. Yaitu Wali Kelas paling perhatian selama kami menuntut ilmu di sekolah menegah pertama. Ibu Herda. Tak masalah ibu itu mengajar pelajaran yang agak gimana gitu bagiku -matematika ^-^' pastinya... Lalu orang penting lainnya adalah orang yang akan menjadi teman dekat tak terpisahkan namun memuakkan juga, Tika.

Gadis tinggi, (duh, maaf menghina...) berwajah manis- (aku sempat berpikir ia itu bocah imut yang butuh kasih sayang... maafkan ke-lebay-an-ku.) yang ternyata lebih tua dariku delapan bulan dua hari (lebih kurang satu tahun lah) lahir saat hari ulang tahun mantan idolaku- (tak usah kusebut namanya) Desember 28 2000. Gadis itu terpaksa menerima kenyataan perutnya yang mulai bun- ah, maafkan aku, bisa gawat jika aku mengatakannya... lagian itu hal yang tidak penting, jariku hanya gatal ingin mengetiknya.

Aku sempat dalam relationship- hm... entahlah, aku juga kurang tahu apa artinya kata 'relationship' aku hanya tahu biasanya orang-orang menggunakan kata ini...

Dua orang teman terdekatku, Nella dan Nadia. Kami mengalami berbagai macam pengalaman yang mengasikkan dan memuakkan, (dan itu pasti terjadi, tidak mungkin tidak pernah ada masalah bukan?) Nella itu asik, gadis jago vollybal, bisa bikin bosan jadi hilang, apa yang kelihatan gak seru jadi seru. Kalau Nadia, gadis imut bertubuh tinggi... tunjang... bayangkan... mengalahkan tinggi badannya adalah salah satu tergetku. Nadia itu suaranya imut, aku jujur senang kalau aku dan dia punya pendapat yang sama.

Aku hampir melupakan seseorang yang paling penting. Lala. Gadis cantik... (kenapa begitu sulit mengetik kata cantik... kenapa...) yang jika kau mengatakan ia itu kalem, maka aku akan menamparmu, ia gadis hiperaktif yang pinter matematika, bahasa inggris, main piano, buat roti bakar dan mencubit pipiku... Aku dan Lala berteman dekat sejak kelas tujuh, namun di kelas delapan tidak lagi, (aku terlalu malas mengingat mengapa kami sempat bertengkar, suatu hal yang tidak ingin kuingat,  dan itu tidaklah penting. yang berlalu biarlah berlalu.)

Lalu di kelas sembilan, berita buruk dari sekolah kami menghancurkan segala-galanya, (lebay...) tapi itu benar. Kami, kelas 7.6 sampai 8.6 yang daftar absennya nggak berubah, cuma di tambah satu orang kini diaduk.

(aku ingin sekali menuliskan absen kelas 8-7.6 karena akulah sekretarisnya, namun aku khawatir kalian terlalu membuang-buang waktu untuk membaca nama-nama fantastis dari kelas 7-8.6)

Aku, Tika, Salma (ah, gadis satu ini, dia punya peranan penting untuk postingan ini!), Meylan, Hafiz (kenapa... saat menuliskan namanya, aku takut membayangkan wajahnya yang.... gimana gitu... ._.), (apakah aku melupakan seseorang?). Nama kami berempat berada pada daftar nama kelas sembilan baru yaitu kelas 9.3

Lala dan Tata (aah, gadis ini juga penting, tolong ingatkan aku nanti..) Fikri dan Ihsan (dua orang ini, juga penting, aah, semuanya penting!) nama mereka berada pada daftar nama yang sama di kelas 9.1

Namun, kini hubunganku denga Lala sudah seperti dulu, tangannya kini sudah leluasa melayang ke tubuhku *nangis prihatin* namun, ia tetap seorang yang tak ingin aku lepaskan seperti dulu. Selain Lala, jujur, bukannya aku ada maksud lain atau apa, Hafiz, teman sekelasku tiga tahun penuh di sekolah menengah pertama, juga seorang yang tidak ingin aku putuskan hubungan (hm... aku tidak tahu kata apa yang cocok, intinya begitu..)

Di kelas 9.3 pengalaman berharga juga kualami, tentu takkan bisa kulupakan (uh, tanganku gatal ingin mengetik semuanya, sayangnya aku bingung mau mengetik dari mana dulu?)

Baiklah, kumulai saja dari Sabrina Nadia (beda dengan Nadia yang sebelumnya), dan Dwi. Mereka berdua tak terpisahkan (seperti aku dan Tika di kelas 9.3) mereka orang yang terbuka dan terus terang, santai dan asik. Aku menghormati Nadia sebagai kakak, jika aku tidak memanggilnya kakak, ia akan mengoceh padaku. Nadia juga sama denganku Navers >:3 yah, tolong jangan remehkan kami karena kami Naruto Lovers, Naruto itu benar-benar seru tahu!

Kalau Dwi, gak tahu kenapa, kalau liat dia itu, bawaannya lucu, apalagi senyumannya Dwi itu manis... (duh, kalau Dwi -nya baca, ngembang tuh hidungnya...)

Lalu aku juga dekat sama Aghni. Dia itu gadis muslimah impian... tapi jangan remehkan dia hanya karena dia alim, Aghni juga ada jiwa laki yang kalau lagi kambuh, asli ngakak banget.. (duh, maaf ya Agh... T3T)

Lalu aku juga ketemu Ashila, gadis berbadan besar nan menggemaskan<3 dia dari kelas 7-8.3 gadis yang aku paling suka ajak dia curhat tentang cogan yang aku suka, lah, kok aku kasih tahu ya? Yah sudahlah... Lalu juga ada Regetha, Zhafira, Ika, Cassandra, Aulia dan Dea. Cassandra gadis manis, tunjang (uaa... iri banget sama yang tunjang-tunjang x_x) plus lebay<3 meskipun begitu, Cassy itu lucu orangnya. Dea Dinca Delisa, D pangkat 3, gadis dengan percaya diri tinggi sampai-sampai kadang memuakkan juga. Orangnya asik, gokil, heboh juga, dia juga pimru regu pramuka kami dulu yang nggak akan aku ceritakan karena sangat memalukan dan memuakkan untuk di ceritakan (ya ampun, maafkan atas penulisan kata-kataku...)

Tak lupa Fatimah, Riri, Meylan, Ami. Meskipun kurang deket sama mereka, mereka itu gokil-gokil semua isinya. Aku mandang Fatimah itu keren, Riri itu ramah, Meylan itu longor juga lucu (maafkan ke jujuranku Melan :D) Ami itu baik (aku ingat pas dipinjemin tugas fikih yang waktu itu sepanjang tali beruk, makasih banget ya..)

Dan, Salma. Entah mengapa aku paling semangat ceritain tentang gadis tinggi ini (maafkan saya...) Salma itu kadang baik, kadang baik banget, kadang emosian, apalagi pas ceritain Descendants of the Sun, ni cewek asli berapi api sampai ilernya- ah, maaf... itu yang seharusnya-tidak-dibilang :v Gadis yang nge-fans sama Song Jong-Ki dan masakan emakku yang ketagihan. sampai-sampai emakku sendiri juga nge-fans sama dia, dah lah, jariku udah keriting-keriting karena ngetiknya laju banget.

Haruskan anak cowoknya juga?

Yelah...

HAFIZ. THE MOST FIRST PLACE!
UDAH TIGA TAHUN PIS, ELU LAGI ELU LAGI, NOMER ABSEN MASIH AJA SAMA, NTAR PAS DI SMA KALO SEKELAS LAGI NO ABSENNYA NAMA LU DULU BARU GUE, LOLZZ XD

Yah, cuma Hafiz yang sudah kukenal sejak kelas 7. yang lainnya ada Daffa Ndut, (karena ada tiga Daffa di kelas 9.3 jadi cara bedainnya Daffa ndut, Daffa putih, Daffa itam (maaf ya Daf, maaf bangeet...^^') Gilang, Rifqy, Awan, Beri (namanya Alkautsar, keren kan? tapi di panggil Beri, dari mana coba datangnya? Oh ternyata itu julukan dia yang artinya Betawi Riau xD) Bagas, Lutfi, yah mungkin hanya mereka. yang lainnya asik juga cuma kami nggak terlalu dekat.

Setelah ngetik panjang lebar tentang hal-hal yang cukup membuang-buang waktu. Bagian terakhir ini, aku akan mengenalkan anggota Baka yang kumaksud diatas sebelumnya. (emang kurang ajar nih author-nya, sudah sepanjang ini, ternyata baru aja basa-basi... *jitak kelapa authornya*)

Tika, gadis yang sudah aku ceritakan. Yah, gadis tak terpisahkan denganku sejak kelas delapan-sembilan. Tergila-gila dengan Justin Bieber.. -_- pengin ke Green Land, setiap pelajaran Pak Zul, IPS, yang ngajarin tentang peta, ni anak gak bisa diem mau ceritain tentang negara-negara yang mau dia kunjungi,sampaing-sampai aku hafal semuanya, bahkan dengan alasan-alasannya, parah banget kan?

Elvi, sudahkah aku menceritakan gadis satu ini. Gadis tinggi... tampang-tampang cool ini adalah partner pertamaku sebagai sesama Navers. Ia gadis pertama yang membuatku tertarik dengan Naruto. Awalnya ia bercerita tentang Episode Naruto di Global Tv dan sorenya aku penasaran dan mencoba menontonnya. lalu aku tergila-gila berat. Gadis suara comel dan juga teman dekat Lala sejak kelas delapan. Juga Bliebers, (begitu kah penulisannya? maklum gue anti-Jb soalnya ;3) yang kalau udah ketemu Tika, dunia serasa milik bertiga (masukin Justin nya juga, jadinya bertiga).

Firda, aah, ini gadis paling gokil, asik, lucu juga. Gadis yang perhatian sama sahabatnya. Dia teman tak terlupakan. Jika ia dalam kesulitan nanti, aku pasti akan membantunya <3 gadis kacamata yang ngefans sama Fadh- upsss... ;D

Adel, gadis fintar... maksudku pintar, kacamata, K-pop, suka Detektif Conan. Doyan Olshop, sama kayak aku. Asik di ajak cerita dan juga lucu. selalu sama Mumuth. Mumuth juga teman Baka-ku. Alim-alim yang juga suka K-pop dan aku senang banget kalau dia udah kasih komen atau vote di akun wattpad aku<3

Nadia, Nella (aku terlalu capek mengetik lagi tentang mereka, baca saja yang sebelumnya.)

Rhafa, jangan salah, ia ini gadis mont- tidak... tidak... itu tidak baik untuk kukatakan padamu. Gadis yang kami anggap sebagai emak kami, emak paling rempong yang pernah ada. sering ngelucu tapi nggak lucu. rumahnya yang dekat dari sekolah menjadi markas kami. punya toko jajanan, dan aku salah satu pelanggan yang sering beli chocolatos di sana... (maafkan atas kepolosanku...)

Bella, meskipun agak kalem, dia termasuk Baka-kami. Gadis yang sewaktu di kelas delapan, tidak bisa lepas degan Tata. Tata gadis yang berusaha diet, padahal dia udah kurus, masih saja diet. Tata Bella sama-sama pintar, asik, dan imut <3

Rachmi, apakah aku sudah menceritakan tentangnya sebelumnya? Baiklah, ia gadis berbulu mata lentik, mukanya bulat tapi cantik, apalagi tunjang... (yah, tunjang lagi... apalah daya diriku..) partner Anime terlengkap, dia itu titan, titan yang makan Ibunya Eren. (lolz, maafkan aku cmeh!) gadis cool, yang terkadang suara jantannya keluar, :v

Lala, yah, gadis hiperaktif yang kuceritakan sebelumnya. Satu hal untukmu yang menyakiti hatinya atau bahkan membuatnya menangis, "I'll kill you" <333 ^-^ ya know...

Lala

Tika
Firda
Nadia
Nella
Rachmi
 *I'm so sorry, I don't have enough photo for you that I mentioned... gomen...

Well, because I'm soooo tired to write all of this, so, maybe that's all what will I say to my all friends. for the person that I'm not tell to this post, I'm so sorry... (you can coment below if you want! :D) I'm not really like my junior high school but, I absolutely love my all friends, dont worry.

Thanks who want to read this. I'm soo repect my readers and I WILL reply you all comment, (if you want) and I will respect your comment too!

see you next post<3